Minggu, 08 Juni 2014

Psikologi Sekolah



 1. Kedudukan Psikologi Sekolah dalam ilmu Psikolog

Psikologi sekolah yaitu suatu cara yang berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi yang bertujuan untuk membentuk mind set anak. Psikologi sekolah fokus pada teori belajar, metode pengajaran, motivasi, kognitif, emosional, dan perkembangan moral serta hubungan orangtua anak. Psikologi sekolah juga mendalami anak-anak dengan kebutuhan khusus. Ahli lain menambahkan bahwa psikologi sekolah berguna dalam penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas, pengembangan dan pembaruan kurikulum, ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan, sosialisasi proses dan interaksi proses itu dengan pendayagunaan kognitif dan penyelenggaraan pendidikan keguruan. Teoris dan peneliti lebih diidentifikasi sebagai psikolog pendidikan, sementara praktisi di sekolah lebih diidentifikasi sebagai psikolog sekolah.

2. Perbedaan Psikologi Sekolah & Psikologi Pendidikan

Psikologi pendidikan merupakan gabungan dari psikologi perkembangan dan psikologi sosial, sehingga hampir sebagian besar teori-teori yang ada dalam psikologi perkembangan dan psikologi sosial digunakan di psikologi pendidikan. Tujuan mempelajari psikologi pendidikan adalah untuk mempelajari bagaimana manusia belajar dalam setting pendidikan, keefektifan sebuah pengajaran, cara mengajar, dan pengelolaan organisasi sekolah.
Psikologi sekolah adalah salah satu bidang dari beberapa bidang psikologi pendidikan. Tujuan adanya psikologi sekolah adalah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi.
Jadi, dari kedua arti dan tujuan di atas, dapat kita lihat bahwa ada perbedaan antara psikologi pendidikan dan psikologi sekolah. Psikologi pendidikan adalah pokoknya, sedangkan psikologi sekolah adalah cabangnya. Psikologi pendidikan berhubungan dengan cara pengajaran, sedangkan psikologi sekolah berhubungan dengan dengan anak didik di sebuah instansi sekolah.

3. Fungsi Sekolah sebagai agen perubahan

Acara sisi akan berfokus pada bagaimana sekolah mampu bertindak sebagai agen perubahan dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya gaya hidup yang berkelanjutan dan dalam membantu individu, keluarga dan masyarakat setempat untuk mengambil tindakan. Ini akan menunjukkan bagaimana reflektif, kreatif, kegiatan kolaboratif terkait dengan pendidikan untuk konsumsi berkelanjutan dapat terwujud.

4. Metode yang digunakan dalam proses pengajaran.

 Metode ceramah yaitu suatu metode yang disampaikan dengan cara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. metode ini merupakan metode yang paling praktis dalam menyampaikan informasi.

Metode diskusi adalah suatu metode mengajar yang hubungannya sangat erat dengan memecahkan masalah. Metode ini lebih sering dan biasa disebut sebagai diskusi kelompok.

Metode demonstrasi ialah suatu metode mengajar yang dengan cara memeragakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan baik secara langsung maupun tidak langsung.Metode ini digunakan untuk memperlihatkan suatu proses yang berkenaan dengan yang dipelajari.


 
5. Permasalahan yang terjadi di sekolah & solusi pemecahan masalah

Permasalahan yang terjadi di sekolah yaitu, tawuran, narkoba, seks diluar sekolah, sering cabut, dll.
Adapaun solusi-solusi tersebut adalah:

Mengambil guru bimbingan dan konseling di sekolah yaitu dengan mengambil guru yang memang berasal dari background pendidikan bimbingan dan konseling.
Bimbingan dan konseling tidak hanya menangani para siswa yang nakal saja, akan tetapi juga menjadi pencegah dan memberi solusi pemecahan masalah.
 Bimbingan dan konseling juga harus mampu untuk mendiagnosis permasalah yang di alami oleh siswa, karena hal tersebut akan mempermudah bimbingan dan konseling untuk dapat mengatasi dan memecahkan permasalahan.
Bimbingan dan koseling juga harus saling berkoordinasi dengan beberapa elemen yang berda di sekolah, dari mulai kepala sekolah, wali kelas, guru-guru mata pelajaran serta orang tua murid.
 Bimbingan dan konseling harus mempunyai pendekatan terhadap para siswa disekolah yaitu: pendekatan secara tradisional, pendekatan development, dan pendekatan neotradisional. 
Bimbingan dan konseling juga harus mempunyai taknik-taknik, yaitu taknik secara kelompok maupun taknik secara individual. Pengunaan taknik-taknik tersebut akan membantu dalam proses bimbingan dan konseling. 

6. Fungsi & peran Psikolog Sekolah & perlunya Psikolog Sekolah

FUNGSI :

Fungsi instruksinal, sebagai umpan balik bagi guru dan siswa, atas keberhasilan atau kegagalan dalam pelajaran atau keperluan perbaikan proses pengajaran. 
Fungsi adminisrtatif, meliputi; seleksi dan penempatan sebagai sarana untuk menaring siswa dalam memenuhi prasyarat yang dibutuhkan atau memasukkan siswa dalam tingkat kelas tertentu,
Fungsi bimbingan,tes juga dapat dijadikan sebagai alat diagnostic psikoedukasional dalam bentuk bimbingan,yang dapat digunakan saat memilih jurusan diperguruan tinggi, menemukan kemampuan-kemampuan yang belum tampak sebelumnya.

PERAN :

Memberikan konseling, pengajaran, dan pendampingan bagi mereka berjuang dengan masalah sosial, emosi, dan perilaku 
 Meningkatkan prestasi dengan menilai hambatan belajar dan menentukan strategi instruksional terbaik untuk meningkatkan pembelajaran
Mempromosikan kesehatan dan ketahanan dengan memperkuat komunikasi dan keterampilan sosial, pemecahan masalah, manajemen kemarahan, self-regulasi, penentuan nasib sendiri, dan optimisme 
Meningkatkan pemahaman dan penerimaan beragam budaya dan latar belakang 


7.  Hal-hal yang diberikan kaitannya dalam layanan Psikolog Sekolah

Beberapa ketrampilan umum yang seharusnya dimiliki seorang psikolog sekolah adalah sebagai berikut :
Menguasai dasar-dasar serta falsafah bimbingan dan konseling
Mahir dan trampil dalam pengumpulan data dan interpretasinya (tes, wawancara, observasi, penggunaan inventori, dan sebagainya)
Memahami teori dan dapat mempraktekkan konseling individual maupun kelompok
Memahami teori perkembangan vokasional dan praktek atau penerapan bimbingan vokasional
Mampu mempraktekkan etika profesi
Mahir dalam statistic dan metode penelitian pendidikan
Kaya akan informasi mengenai sistem pendidikan
Trampil menangani kasus karena telah terlatih melalui magang atau program profesi dengan supervisi.

8. 8. Perbedaan Psikolog Sekolah, Psikolog Pendidikan & Guru BK

Tugas Psikolog Pendidikan :
1.   Melakukan assesment dan intervensi individual murid sekolah
2.   Konsultasi mengenai keberfungsian sistem sekolah
3.   Melakukan assesment pada anak-anak pra-sekolah di rumahnya, dan di sekolah (play group), untuk memberikan rekomendasi alur sekolahnya

Tugas Guru BK:
1. Pengembangan kehidupan pribadi
2. Pengembangan kehidupan sosial
3. Pengembangan kemampuan belajar
4. Pengembangan karir

TUGAS dan PERAN Psikolog Sekolah :

Berkonsultasi dengan guru, orang tua, administrator, dan masyarakat penyedia kesehatan mental tentang belajar, sosial, dan masalah perilaku.
Terlibat dalam kegiatan sekolah dalam aktivitas menyehatkan.
Membantu pendidik dalam membuat suasana  aman, kelas sehat dan lingkungan sekolah yang tenang.
Mengajarkan parenting skill, strategi pemecahan masalah, penyalah gunaan obat obatan terlarang, dan topik lainnya yang berkaitan dengan kesehatan sekolah.
Melakukan penelitian tentang instruksi yang efektif, manajemen perilaku, program-program sekolah alternatif, dan intervensi kesehatan mental.
Menilai dan mengevaluasi berbagai masalah yang berkaitan sekolah dan aset anak dan remaja di sekolah yang ditugaskan.
Intervensi langsung dengan siswa dan keluarga melalui konseling individu, kelompok pendukung, dan pelatihan keterampilan.
Sajikan sebagai anggota tim interdisipliner untuk memenuhi kebutuhan siswa berisiko dan untuk melayani kebutuhan siswa penyandang cacat melalui penilaian pendidikan khusus, kelayakan, dan proses penempatan. 


Motivasi



Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama.
Perspektif tentang motivasi
Perspektif psikologis menjelaskan motivasi dengan cara yang berbeda berdasarkan perspektif yang berbeda pula.
Ada empat perspektif tentang psikologi yaitu, behavioral, humanistis, kognitif, dan sosial.
1.      Perspektif behavioral
Perspektif behavioral menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Insentif adalah peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid. Pendukung penggunaan insentif menekankan bahwa insentif dapat menambah minat tepat dan menjauhkan mereka dari perilaku yang tidak dapat.
Insentif yang dipakai guru di kelas antara lain nilai yang baik, yang memberikan indikasi tentang kualtas pekerjaan murid, dan tanda bintang ataupun pujian juka mereka  menyelsaikan  suatu  tugas dengan baik. Insentif lainnya antara lain memberi penghargaan atau pengakuan pada murid. Misalnya, memamerkan karya mereka, memberika sertifikat prestasi, memberi kehormatan, atau mengumumkan prestasi mereka. Tipe insentifnya difokuskan pada pemberian izin kepada murid untuk melakukan sesuatu yang spesial, seperti aktivitas yang mereka inginkan, sebagai ganjaran atas hasil mereka yang baik. Insentif ini berupa jam istirahat lebih, izin memainkan game di komputer, perjalanan, atau bahkan pesta. Ringkasnya, dalam diskusi kita tentang motivasi instrinsik dan ekstrinsik, kita akan melihat lebih dekat pada isu apakah insentif ini ide yang baik atau bukan.
2.      Perspektif humanistis
Perspektif humanistis menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka, dan kualitas positif. Perspektif ini berkaitan erat dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi. Menurut hiearki kebutuhan Maslow, kebutuhan individu harus dipuaskan dalam urutan sebagai berikut,
a.       Fisiologis, lapar, haus, tidur.
b.      Keamanan, bertahan hidup.
c.       Cinta dan rasa memiliki, keamanan. Kasih sayang, dan perhatian dari orang lain.
d.      Harga diri, menghargai diri sendiri.
e.       Aktualisasi disri, realisasi potensi diri.
Menurut Maslow, misalnya, seorang siswa harus memuaskn kebutuhan makan sebelum mereka dapat berprestasi.
Aktualisasi diri, kebutuhan tertinggi da sulit dalam hirarki maslow, diberi perhatian khusus. Aktualisasi diri adalah motivasi untuk mengembangkan potensi diri secara penuh sebagai manusia. Menurut Maslow, aktualisasi diri dimungkinkan hanya setelah kebutuhan yang lebih rendah telah terpenuhi. Maloslow memperingatkan bahwa kebanyakan orang berhenti menjadi dewasa setelah mereka mengembangkan level harga diri yang tinggi dan karenanya tak pernah sampai ke aktualisasi diri.
3.      Persfektif kognitif
Persfektif kognitif, pemikiran murid akan memandu motivasi mereka. Persfektif menekankan arti penting dari penentuan tujuan, perencanaan, dan moonitoring kemajuan menuju suatu tujuan. Persfektif kognitif tentang motivasi sesuai dengan gagasan R.W.White, yang mengusulkan konsep motivasi kompetensi, yakni ide bahwa orang termotivasi untuk menghadapi lingkungan mereka secara efektif, menguasai dunia mereka, dan memproses informasi secara efisien. White mengatakan bahwa orang melakukan hal tersebut bukan karena kebutuhan biologis, tetapi karena orang punya motivasi internal untuk berinteraksi dengan lingkungan secara efektif.
4.      Persfektif sosial
Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab. Kebutuhan afiliasi murid tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat, ketertarikan mereka dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru.
 
Motivasi untuk meraih sesuatu
Motivasi ekstrinsik dan intrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain(cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi  oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya, murid mungkin belajar keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik.
Persfektif behavioral menekankan arti penting dari motivasi ekstrinsik dalam prestasi ini, sedangkan persfektif kognitif dan humanistis lebih menekankan pada arti penting dari motivasi intrinsik dalam prestasi.
Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri(tujuan itu sendiri). Misalnya, murid mungkin belajar menghadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang diujikan itu.


Sabtu, 19 April 2014

Psikologi Pendidikan "Observasi Sekolah MAN 2 Model Medan"

Arifa Ulia Bahri (131301053)
Riyan Kurnia Aswari (121301060)
Azrah S (131301017)
Elfira Deviyanti Nasution (131301041)
Khalishah Fitri (131301049)

LAPORAN:




EVALUASI:

a.       Evaluasi terhadap kinarja kelompok

Sekolah yang kami observasi beralamat di Jalan Willem Iskandar No. 7A Pancing, MAN 2 Model Medan. Kami melakukan observasi pada hari senin tanggal 7 april 2014. Sebelumnya kami sudah tiga kali ke lokasi yaitu pertama untuk meminta persetujuan sekolah pada tanggal 29 maret 2014, yang kedua untuk mengantarkan surat izin yang kemudian di proses oleh sekolah pada tanggal 3 april 2014. Setelah sekolah setuju dengan akan dilaksanakannya observasi dan mengizinkan kami untuk datang di tanggal 5,6,atau pun 7 april 2014. Kali ketiga kami kesekolah, di tanggal 5 april 2014 sebenarnya adalah untuk observasi, tetapi karena beberapa kendala seperti penyesuaian jadwal antar masing-masing anggota, dan kendala turunnya hujan deras sementara sekolah yang kami tuju kira-kira 1 jam perjalanan dan ditempuh naik angkot sampai akhirnya kami tiba di sekolah 30 menit sebelum proses belajar mengajar berakhir. Hal ini merupakan kelalaian kelompok yang seharusnya waktu dan kendala dapat diperkirakan terlebih dahulu. Oleh karena keterlambatan itu, kami memutuskan untuk melakukan observasi di tanggal 7 april 2014. Kami tiba di MAN 2 Model  pukul 08.30 WIB dan masuk kelas untuk observasi di pelajaran kedua pukul 09.00 WIB – 11.30 WIB.

Kelompok terdiri dari 5 orang, observasi di kelas kami lakukan bersama-sama dimana masing-masing orang bertanggung jawab atas ketiga poin yang akan di observasi. Satu orang menanggungjawabi dinamika pembelajaran antara siswa dan guru; cara berbicara, sorot tatap mata, dan body language. Satu orang menanggungjawabi  setting ruangan kelas (tata letak ruangan dan alat-alat belajar serta perabot, barang-barang yang ada di ruangan kelas). Satu orang menaggungjawabi bagian setting lokasi sekolah secara menyeluruh (jumlah kelas, terdapat halaman, rumah ibadah, laboratorium, dsb. Satu orang bagian dokumentasi dan satu lagi bagian koordinasi dengan pihak sekolah. Semua anggota kelompok saling membantu dalam menyelesaikan tugasnya. Setelah selesai observasi, masing-masing anggota kelompok membuat laporannya sesuai dengan pembagian tersebut diatas.


Metode riset deskriptif yaitu observasi yang di lakukan adalah observasi alamiah dimana perilaku diamati di dunia rill, observasi terhadap perilaku dalam situasi alami. Dalam teknik ini, peneliti tidak boleh mempengaruhi orang yang diteliti, sehingga peneliti berupaya agar orang-orang yang diamatinya tidak memperhatikan keberadaan peneliti. Upaya untuk melakukan observasi alamiah sesuai pengertiannya sudah dilakukan oleh kelompok yaitu hanya memberi tahu tujuan dan yang akan kami observasi kepada pihak sekolah dan guru yang mengajar di kelas yang di observasi. Namun ketika kami masuk kelas, guru yang mengajar ternyata memberitahu kepada murid maksud kedatangan kami sehingga ada kesan packing dalam proses pembelajaran baik itu oleh guru maupun siswa. Ditambah lagi dengan kondisi dalam kelas yang memudahkan murid-murid untuk menaruh perhatiannya pada kami. Kami melakukan observasi dari belakang kelas agar tidak mengganggu perhatian murid pada pelajaran, tetapi model tempat duduk siswa yang merapat sampai kedinding belakang sehingga kami harus duduk berdekatan dengan murid-murid bagian belakang menjadi salah satu penyebab terbaginya perhatian murid dalam kelas.

b.      Evaluasi hasil observasi

·         Mulai dari berbicara gesture dilihat dari sorot mata yang tajam dan mendalam kepada para murid guna membantu para murid dapat belajar secara optimal. Dari interaksi dinamika yang di dalam kelas. Terlihat bersifat aktif dinamika di dalam kelas walaupun kurang kondusif namun para siswa sangat antusias menjawab pelajaran dari guru. Evaluasi dari segi kedekatan antara guru dengan murid bersifat jarak yang personal untuk membantu siswa mempelajari pelajaran. Metode yang digunakan dengan SCL(Student Centre Learning) terlihat dengan guru hanya memberikan sedikit dan sisanya murid yang berperan aktif di dalam proses belajarnya.

·         Manajemen kelas yang efektif tentu sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan kesempatan pembelajaran siswa (Charles,2002;Everston,Emmer,&Worsham,2003). Suasana kelas dan fasilitas yang mendukung tentu akan menunjang proses belajar mengajar. Didalam kelas XI-IPS 1 ini terdiri dari 40 orang yang terbagi menjadi 16 orang siswi dan 24 orang siswa. Gaya penataan meja siswa memakai model auditorium, dimana semua siswa duduk menghadap guru. Meja siswa berpasangan yang terdiri dari 4 baris kesamping dan5 baris kebelakang. Gaya penataan meja siswa ini sudah baik, dari setiap sisi tempat duduk siswa, siswa dapat melihat kearah guru dan papan tulis  yang berada dibagian tengah depan kelas dengan jelas.


·         Berdasarkan teori perkembangan Piaget dimana anak SMA yang berusia kira-kira 14-17 tahun berada pada tahap operasional formal (tahap perkembangan Piaget). Yaitu, siswa sudah mulai memikirkan hal-hal yang abstrak, idealis, dan logis. Remaja mulai memikirkan kualitas ideal yang mereka inginkan dalam diri mereka. Dalam tahap kognitif ini juga berkembang sikap egosentris pada siswa. Selalu ingin diperhatikan, menjadi pusat perhatian dan merasa unik serta berbeda dengan orang lain. Hal ini terlihat saat di dalam kelas beberapa siswa dengan sengaja berjalan-jalan dan membuat sedikit kericuhan agar dilihat oleh temannya, guru, maupun kami yang sedang melakukan observasi di belakang.

·         Berdasarkan teori perkembangan rentang hidup Erikson siswa SMA berada di tahap Identitas vs kebingungan identitas, masa remaja (10-20 tahun). Remaja berusaha mencari tahu jati dirinya, dan kemana mereka akan menuju. Ramaja perlu diberi kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai cara untuk memahami identitas dirinya. Apabila remaja tidak cukup mengeksplorasi dirinya maka identitas dirinya tidak akan bisa ia temukan. Hal inilah yang mempengaruhi konsistensi dan antusiasme siswa dalam belajar. Terlihat ada keinginan untuk menemukan jati diri pada setiap siswa yang membuat mereka terus menonjolkan kemampuan dan keunikan dirinya. Kelas yang kami observasi adalah kelas IPS, pilihan siswa untuk masuk ke kelas IPS ini juga menjadi salah satu bukti bahwa mereka memiliki orientasi terhadap masa depan mereka, untuk menemukan jati diri mereka.


·         Fungsi kognitif berasal dari situasi sosial (Vygotsy). Tugas yang sulit dikuasai anak sendirian akan lebih mudah dipelajari dengan bantuan orang yang lebih dewasa (guru) atau anak lain yang lebih mampu atau Zone Proximal Development. Setelah  siswa mendapat instruksi verbal atau demokrasi kemudian mereka menata informasi dalam struktur mental mereka dengan bantuan orang yang lebih mampu. Sehingga siswa akhirnya bisa melakukan suatu tugas itu tanpa bantuan orang lain. Pada saat siswa praktek mengerjakan apa yang sudah diinstruksikan oleh guru, guru berkeliling untuk melihat bagaimana siswa mengerjakan tugas tersebut dan membantu siswa yang kesulitan. Berkali-kali guru bertanya, sudah paham? Masih ada yang mau bertanya? Dengan tujuan guru mengetahui siswa mana yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugasnya untuk kemudian di bantu oleh guru. Di barisan siswa juga terlihat mereka saling bertanya satu sama lain. Siswa yang dianggap telah meguasai materi tersebut kemudian menjelaskan kepada teman lain yang butuh bantuan menyelesaikan tugas tersebut.

·         Di dalam kelas terlihat praktek pembelajaran asosiatif ini. Pertama-tama saat akan menerangkan pelajaran di papan tulis, guru memberikan stimulus berupa kata-kata “perhatikan!” dan siswa pun mulai mendengarkan guru. Kemudian kondisi kedua guru mengatakan “perhatikan” sambil berjalan mengambil spidol dan siswa-siswi pun memperhatikan guru. Kejadian ini beberapa kali berulang, hingga akhirnya ketika guru mulai berjalan dan mengambil spidol, tanpa mengucapkan kata “perhatikan”, siswa sudah mengerti bahwa guru akan menerangkan sesuatu dan mulai memperhatikannya.  (classical conditioning). Merupakan bentuk pembelajaran asosiatif di mana stimulus netral diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna dan memunculkan kemampuan untuk mengeluarkan respons yang serupa.


·         Ketika guru menginstruksikan untuk mempraktekkan yang sudah di terangkan, ada siswa yang kemudian mengerjakan dengan antusias dan menyelesaikannya. Guru pun memuji tugasnya dan siswa itu semakin semangat mengerjakan tugas berikutnya. Sebaliknya ketika ada siswa yang bermalas-malasan, guru menegurnya, dan siswa itu pun mulai mengerjakan tugasnya. (operant conditioning). Merupakan bentuk pembelajaran di mana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan pada kemungkinan perilaku yang akan diperkuat atau tidak.

·         Teori Kognitif Sosial (social cognitive theory) menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran. Proses pembelajaran yang berkontribusi pada teori kognitif sosial ini merupakan pembelajaran observasional. Pembelajaran Observasional disebut juga imitasi atau modelling, adalah pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain. Ketika seorang siswa rajin dan pintar mendapat sanjungan dari guru, siswa lain pun menjadikannya sebagai model yang kemudian di contoh perilakunya agar bisa menjadi seperti siswa pintar tersebut dan mendapat sanjungan dari guru. Guru juga menjadi model bagi siswa, ketika guru menerangkan pelajaran, menjelaskan bagaimana cara membuat tabel dan cara mengerjakan tugas dalam pelajaran ekonomi, siswa memperhatikan guru dengan baik. Siswa mengobservasi apa yang di lakukan guru terhadap pelajaran tersebut dan kemudian menerapkannya ketika mengerjakan tugas itu sendiri.